Melihat Keindahan Masjid Raya Al Mashun Medan

Medan menjadi pusat Kesultanan Deli semenjak 1890-an. Kerajaan Islam itu diingat sampai ketika ini sebagai kekuatan sosial-politik yang ikut mengembangkan kebudayaan masyarakat setempat. Di antara legasinya ialah Masjid Raya al-Mashun atau yang sekarang dikenal sebagai Masjid Raya Medan.

Rumah ibadah ini di bina pada 1906.Tiga tahun kemudian, masjid itu secara resmi dimulai oleh pihak Kesultanan Deli.Pemimpinnya ketika itu, Sultan Makmun al- Rasyid, membina Masjid Raya Al Mashun sebagai proyek berikutnya sesudah dia menegakkan Istana Maimun. Jarak salah satu kedua bangunan tersebut melulu sekitar 200 meter. Kedekatan tersebut menandakan Masjid Raya al-Mashun masih sekompleks dengan area istana Kesultanan Deli.

Arsitek yang merancang Masjid Raya al- Mashun ialah seorang Belanda yang ber nama van Erp. Dia pula yang mendesain Istana Maimun. Namun, van Erp darurat bertolak ke Jawa lantaran namanya tergolong ke dalam kesebelasan yang bertugas merestorasi Candi Borobudur. Posisinya diganti kan oleh JA Tingdeman, yang pun berkebangsaan Belanda.

Bila disaksikan secara keseluruhan, lokasi sujud ini memperlihatkan kesan megah dan akulturasi. Bangunan utamanya terletak di tengah hamparan seluas tidak cukup lebih satu hektare. Adapun nuansa ragam kebiasaan tampak dari keserupaannya dengan gaya ar sitektur Islam di India, Arab, dan Andalusia (Spanyol). Denah masjid ini berbentuk bujur sangkar, dengan unsur gerbang besar yang dinaungi kubah-kubah hitam di keempat sudutnya. Di tengah-tengah empat kubah itu, terdapat kubah utama yang pun berwarna hitam.

Masjid Raya al-Mashun didominasi warna putih, di samping hijau pada selama bagian pintu-pintu dan hitam pada kubahnya. Pilar-pilar yang ada pada masing-masing sisi bangunan utama memungut corak khas Kordoba, Spanyol, khususnya dengan lengkung unsur atas yang berbentuk separuh lingkaran dan diameter pilar yang tidak besar. Pengunjung yang berkeinginan memasuki ruang shalat harus melewati tangga hubung lantaran lokasi tersebut letaknya lebih tinggi daripada beranda. Ruangan tersebut berbentuk segi delapan tidak sama sisi.

Untuk membina Masjid Raya al- Mashun, tidak sedikit dekorasi yang diimpor dari mancanegara, seperti marmer Italia, kaca patri asal Cina, dan lampu gantung dari Pran cis. Setiap ornamen dihiasi dengan ukiran-ukiran estetis yang bermotif floral atau geometris. Demikian pula pada dinding unsur interior masjid ini. Pilar-pilar yang menahan kubah utama ada di ruang utama tempat semua jamaah shalat.

Penampilan tiang-tiang penyangga tersebut begitu kokoh, tetapi anggun lantaran tercipta dari bahan marmer berkualitas tinggi. Di atasnya terdapat lengkung kubah yang bernuansa khas kebudayaan Spanyol Islam. Gaya arsitektur Spanyol pun tampak dari birai- birai jendela yang menjadi jalan masuknya cahaya matahari dari luar, serta mihrab lokasi imam memimpin shalat berjamaah.Pengaruh Gotik Eropa juga tidak ketinggalan menghiasi unsur atas jendela-jendela.

Keindahan Masjid Raya al-Mashun tidak melulu tecermin pada jasmani bangunannya, tetapi pun tentang bagaimana proyek pendiriannya berlangsung. Seperti telah diterangkan sebelumnya, lokasi tinggal ibadah ini di bina dengan dukungan sultan Deli. Namun, terdapat pula pihak-pihak beda yang turut menolong terwujudnya ikon kerajaan ini. Di antaranya ialah Tjong A Fie, seorang berdarah Tionghoa yang dikenal luas sebagai pedagang sukses di Deli. Satu sumber menuliskan, pebisnis perkebunan itu menyumbang selama sepertiga dari total ongkos yang dibutuhkan untuk membina Masjid Raya al-Mashun. Fakta ini menandakan terdapat hubungan yang saling menyokong antara pihak kesultanan Deli dan semua pengusaha yang menyelenggarakan bisnis di negeri tersebut, tanpa memandang perbedaan kepercayaan dan suku bangsa.

Masjid Raya al-Mashun tercatat merasakan perbaikan sejumlah kali semenjak dibangun pada permulaan abad ke-20. Di tahun 1927, restorasi atas Masjid Raya al-Mashun dilaksanakan dengan wujud kerja sama antara pihak kesultanan Deli dan perusahaan Deli Maatscapij. Selanjutnya, restorasi dilakukan pada zaman Republik Indonesia, yaitu tahun 1966, atas sokongan pemerintah kota Medan.

Situs bersejarah ini kini telah melalui masa satu abad lamanya. Pemerintah wilayah setempat menjadikannya salah satu tujuan wisata unggulan untuk para pelancong yang datang ke Kota Medan.

Keindahan Masjid Raya al-Mashun dan pun Istana Maimun menandakan tingginya kemajuan Kesultanan Deli, sebagai sebuah kedaulatan Melayu yang sempat berjaya pada zaman lampau. Memang, kerajaan ini pada sampai abad ke-20 masyhur sebagai negeri maritim yang dominan besar di area pesisir unsur timur Sumatra. Deli pun berperan strategis dalam konteks perniagaan di jalur maritim internasional Selat Malaka.

Leave a Comment